Home Cerpen Bagi Mereka yang Terluka

Bagi Mereka yang Terluka

Bagi Mereka yang Terluka

15 Mei 2021, 17:15

Aurora Ervana Faradiya, 8

CT: Erina “Rina” Nayaka Kusuma, 35

Suara hentakan-hentakan kaki terdengar lembut dari sebuah kamar dengan pintu berwarna biru muda. Disertai dengan sebuah senandung kecil yang baru saja gadis itu ciptakan. Ia juga bersandar di pagar balkon sembari melompat-lompat beberapa kali. Sore itu terlihat indah, dengan semburat jingga dan merah muda di langit yang bersih, sama seperti dengan kebahagiaan yang tercermin di mata Aurora.

Aku akan melihat mereka hari ini! Pikir Aurora sambil tersenyum lebih lebar. Kalimat itu ia ulang berkali-kali dalam benaknya seperti mantra dan setiap itu terjadi, ia makin bersemangat hingga kaki kecilnya mengajaknya berputar-putar dan melompat kegirangan. Banyak hal yang ia ingin sampaikan pada mereka. Kelas bahasa Inggris pertamanya yang baru saja ia lakukan, seorang teman baru yang punya sebuah boneka beruang berwarna kuning terang, sebuah masker dengan peri kecil di pinggirnya yang merupakan hadiah dari-

Aurora berputar sangat cepat saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Matanya bersinar terang, rambut panjangnya menari- oh… ternyata hanya Bu Rina. Bahu Aurora langsung merosot, senyumannya menghilang, dan ia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Bu Rina hanya tertawa kecil sambil menghampiri gadis itu, satu tangannya tersembunyi di kantong celananya.

“Hayo… nungguin siapa?” canda Bu Rina sambil mengelus kepala Aurora. Si gadis hanya menyibak tangannya dan membuang muka. “Kamu ingat kan, nggak boleh ketemu Alan sebelum makan malam?”

Sangking kesalnya, Aurora hanya menjawab pertanyaan Bu Rina dengan sangat pelan. Bu Rina mengangkat satu alisnya, “Aurora, peraturan nomor sa-”

“Bukan Alan!” Aurora menjawab dengan suara yang lebih keras. “Ibu gak boleh tahu! Cuman aku doang yang boleh,” ia lanjut sambil menjulurkan lidahnya. Bu Rina hanya bisa cekikikan.

“Ya sudah, ibu gak akan nanya,” muncul sebuah senyum di wajah Aurora, “Tapi,” senyuman itu langsung tergantikan dengan sebuah hentakan kaki. Meski melihat itu, ekspresi Bu Rina masih sama dengan saat ia masuk ke kamar Aurora, sebuah senyuman dengan berjuta arti yang berbeda. Tidak jarang Aurora merinding karena senyuman itu meskipun ia tahu Bu Rina tidak pernah bermaksud buruk.

Oh iya, kembali lagi ke mengapa Aurora kesal. Aurora melihat Bu Rina akhirnya menarik keluar tangan yang selama ini tersembunyi di kantong celananya. Tanpa harus mengetahui apa benda itu, Aurora tahu apa yang dipegangnya. Saat Bu Rina menjulurkan tangannya, ada sebuah botol bening kecil yang berisikan sebuah cairan berwarna ungu muda.

Aurora menatap botol itu selama beberapa detik sebelum menengadah ke Bu Rina, matanya berbinar. “Nanti aja ya, bu… boleh ya…”

Bu Rina menghela nafasnya secara perlahan. “Rora, ibu tahu kamu diam-diam kabur saat obatnya dibagikan. Kamu ingat kan kalau kamu nggak boleh lupa minum obat?”

“Iya, tahu…” bisik Aurora, jari-jari kecilnya memutar gelang hijau di pergelangan tangannya. “Hari ini aja kok, bu… sejam lagi aku minum, abis itu aku janji gak bakal lupa,”

Ada sebuah determinasi di suara dan tatapan mata Aurora… ah, bukan, bukan determinasi, namun kerinduan. Sepertinya, Bu Rina melihat hal itu, bukan aku saja. Bu Rina terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu di benaknya, mungkin antara mengikuti keinginan Aurora atau menolaknya. Tapi, ya, Bu Rina kalah dengan kegigihan Aurora dan ia juga mulai penasaran dengan apa istimewanya hari itu.

“Janji, ya?” Tanya Bu Rina. Ia hanya mendapat anggukan kuat dari Aurora sebagai jawabannya. Sebuah senyum kembali menghiasi wajah Bu Rina sebelum ia berdiri, mengelus rambut Aurora, dan berjalan meninggalkan Aurora sendiri dengan langit jingga. Ia berhenti sebentar untuk mengintip terakhir kalinya. Namun, ia hanya dapat tertawa saat Aurora mendorong pintu kamarnya.

Untuk memastikan, Aurora menekan telinganya ke pintu kamarnya dan ia mendengar suara langkah kaki Bu Rina perlahan-lahan menghilang. Matanya kemudian tertuju kepada kunci dengan sebuah bunga mungil yang bergelantungan di gagang pintunya. Tangan Aurora sangat gatal untuk memutar kunci itu dan mengunci kamarnya, tapi ia tahu, ia akan dihukum kalau ia melakukan itu. Sambil menghela nafas, Aurora memutuskan untuk menunggu mereka di balkon.

Si gadis berambut hitam legam itu kembali bersandar ke balkon kamarnya sambil melihat ke halaman di bawah. Ada beberapa teman sebayanya yang sedang asik bermain sepak bola, sangking asiknya, tawa mereka terdengar hingga ke atas. Aurora jadi ikut tertawa. Ada juga beberapa teman Aurora yang lebih tua yang terlihat duduk berdekatan sambil berbisik-bisik. Muncul sebuah senyum licik di wajah Aurora saat sebuah ide nakal melintas di kepalanya.

Ia tak lama memerhatikan mereka karena ia mendengar suara gemuruh yang mengalihkan pandangannya ke langit sore. Sebuah kecemasan mulai tumbuh di hati Aurora. Langitnya masih berwarna jingga terang, namun Aurora dapat melihat awan abu-abu tebal yang perlahan-lahan mendekatinya. Wajah Aurora menjadi muram dan ia hanya dapat menyandarkan dagunya di telapak tangannya. Mereka belum datang…

Namun, sepertinya Tuhan masih sangat sayang kepada Aurora, layaknya Ia tidak menyukai melihat para anak bersedih.

Aurora mengangkat kepalanya saat ia mendengar suara lembut yang memanggil namanya. Sebuah senyum terang menghias wajahnya sembari ia berputar dan berlari ke arah suara itu. Tangan Aurora terbuka selebar mungkin dan ia melompat ke rangkulan ibunya.

“Mama!” Ujarnya dengan riang sembari keduanya memeluk erat satu sama lainnya. Aurora masih memeluk ibunya saat ia merasakan sebuah tangan besar yang mengelus rambutnya perlahan. Si gadis kecil itu tidak perlu menengok untuk mengetahui siapa yang mengelus kepalanya. Aurora hanya tertawa girang saat ia merasakan ayahnya mencium kepalanya. Akhirnya kedua orang istimewa yang ia tunggu-tunggu datang juga!

Masih sambil tersenyum lebar, Aurora menggeliat keluar dari pelukan ibunya yang erat dan ia mengambil kedua tangan orang tuanya. Ia menarik-narik tangan mereka, menuntut mereka untuk berjalan lebih cepat agar dapat segera mengobrol sebelum awan hujan menghampiri. Sebelum waktu merenggut segalanya.

“Sini! Sini!” Seru Aurora sambil menarik-narik ujung celana orang tuanya, menyuruh mereka agar duduk bersamanya. Terdengar sebuah tawa kecil dari ibu Aurora sebelum ia duduk bersila di kanan Aurora. Si gadis cilik itu tersenyum sangat lebar kepada ibunya, sangat lebar hingga ibunya tak tahan mencubit pipinya. Aurora berpura-pura kesakitan, tapi, aktingnya tak bertahan lama dan ia hanya tertawa saat gagal menipu ibunya.

Di sisi lain, sang ayah hanya dapat mendecakkan lidahnya melihat kelakuan kedua orang yang ia sayangi. Sayangnya, Aurora mendengarnya dan ia menjulurkan lidahnya sebagai sebuah ejekan. Dengan sangat dramatis, satu tangan ayah Aurora menggenggam dadanya seperti ia baru saja mendapatkan hinaan terburuk selama hidupnya. Melihat itu, Aurora memampangkan ekspresi bangga. Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama karena Sang Ayah tiba-tiba mengangkat Aurora dan menaruhnya di pangkuannya. Aurora terkejut tapi ia tidak mengeluh, ia malahan memeluk ayahnya dengan erat.

Ketiganya hanya duduk terdiam. Ditemani canda tawa teman-teman Aurora di lapangan, nyayian-nyayian merdu dari sekelompok burung gereja, dan hembusan angin sepoi-sepoi yang terlihat mendorong awan hujan menjauh dari Aurora. Ia senang, tentunya sangat senang, meski tidak ada dari mereka yang berbicara. Ia berhasil melirik raut muka orang tuanya secara diam-diam dan mereka tersenyum kecil, menunjukkan sebuah kerinduan yang terbayar muncul sebuah senyuman yang sendu di wajah Aurora. Dengan cepat, Aurora menggelengkan kepalanya, seperti mencoba menghapus senyuman aneh itu.

“Ma, pa, tau gak, hari ini aku belajar bahasa Inggris loh!” Ujar Aurora dengan riang hingga berhasil mendapatkan tepuk tangan kecil dari kedua orang tuanya. “Terus ada kuis abis kelas dan aku dapet 100!” dan ucapan itu menghasilkan sebuah pelukan erat dari ayahnya.

“Terus, terus, aku boleh pilih sendiri hadiahnya! Ya udah, aku minta nonton TV. Udah lama banget kita nggak nonton TV, aku jadi gak pernah nonton kartun lagi. Tapi, pas aku minta itu, aku malah disuruh pilih hadiah lain,” keluh Aurora. “Kata Bu Rina, sekarang TV udah nggak ada tontonan yang cocok lagi buat seumuran aku. Nah, aku bingung kan maksudnya apa, ya udah aku tanya dong ke Ka Ebi, soalnya dia lagi berdiri di sebelah aku. Terus, dia tuh keliatan udah mau jawab aku, eh, tiba-tiba ngejauh dan bilang gak tau. Aneh banget! Ya udah deh aku jadinya minta jatah coklat aja buat nanti habis makan,”

“Oh terus, terus, aku ada temen baru!” Kali ini, saking bersemangatnya, Aurora melompat berdiri dari pangkuan ayahnya dan berdiri di hadapannya. “Namanya Emma! Keliatannya sih dia lebih muda daripada aku. Oh iya! Dia punya boneka beruang warna kuning!” Aurora tertawa cekikikan. “Masa beruang warnanya kuning!”

Aurora mengusap air matanya, yang muncul karena ia tertawa sangat lepas, sambil berjalan perlahan ke arah balkon. Mata coklat tuanya sibuk mencari sosok Emma. “Aku pingin ajak main Emma, tapi, seharian ini, aku gak liat dia. Aku denger sih dia sakit,” Aurora menghela nafasnya, “Semoga aja sih bukan virus itu,”

Gadis kecil itu terdiam, membiarkan angin membelai rambutnya. Kepalanya tiba-tiba dihinggapi oleh berbagai macam pikiran-pikiran buruk dan Aurora cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran buruk itu. “Oh iya! Aku dikasih masker ba-”

Apa yang ia lihat saat ia membalikan badannya membuat Aurora sekali lagi terdiam. Beragam emosi datang secara tiba-tiba, mendesak, mengekang, mencekik. Berkali-kali ia berkedip, berharap apa yang ia lihat hanya sebuah hasil dari imajinasinya. Namun, apa yang ada di depannya tidak menghilang. Ia mencoba melambatkan napasnya untuk menenangkan dirinya, seperti yang diajarkan oleh Bu Rina. Ah! Sial! Tidak mempan! Mata Aurora terasa sakit, panas, dan ia merasakan sebuah air mata mengalir dengan sangat perlahan.

Kedua sosok yang terduduk di hadapannya, yang seharusnya adalah orang tuanya, tidak memiliki wajah bukan, ini bukan cerita hantu, ini tentang kerinduan dan Aurora takut, sangat takut. “Ma… Pa… Sepertinya… Sepertinya Aurora mulai nggak ingat wajah mama dan papa…”

Gadis cilik itu hanya dapat mengusap air matanya yang terus mengalir. Ia bingung, takut, cemas, terlalu banyak emosi yang menghampirinya. Terlalu banyak untuk ditanggung oleh seorang gadis mungil sepertinya. Tidak selesai di sana, benak Aurora memutuskan untuk memperburuk suasana. Ia tiba-tiba diingatkan bahwa sejak dari awal ia duduk bersama kedua sosok itu, tidak ada dari mereka yang berbicara dan sekarang, ia tidak lagi mengenal suara wanita yang memanggil namanya.

Aurora terus menangis dengan diam, kedua sosok itu bergeming. “Aku- aku lupa wajah mama sama papa… Aku lupa suara mama sama papa…” ia mengusap pipinya. “Aku nggak punya apa-apa untuk bantu aku ingat… Aku nggak punya foto, video,” gadis kecil itu mulai terisak. “Ma, pa, aku nggak mau lupa! Aku kesepian, ma, pa! Aku kangen! Aku rin-”

Ucapan gadis kecil itu terhenti saat ia merasakan sebuah kehangatan, ah, lebih tepatnya sebuah pelukan. Ia merasakan sebuah tangan kasar yang mengelus punggungnya dengan perlahan dan lembut. Tangan orang lain itu berada di kepala Aurora, dengan lembut menariknya lebih dekat ke pelukannya. Aurora masih menangis kejar, namun, di tengah semua kekacauan itu, ia menemukan sebuah hal yang menenangkannya. Ia mencium aroma lavender yang samar, yang familiar. Ah, ya, parfum yang selalu Bu Rina gunakan.

Setelah mengenali Bu Rina, Aurora akhirnya dapat mulai tenang, meski air matanya belum berhenti mengalir. Ia mendengar Bu Rina bersenandung dengan lembut. Tangan kecil Aurora akhirnya memiliki energi yang cukup untuk memeluk Bu Rina saat ia mendengar lagu pengantar tidur yang tidak asing itu.

“Tidak apa-apa, sayang,” bisik Bu Rina. Ia perlahan-lahan melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Aurora. “Ibu yakin dua batang coklat akan menyembuhkanmu.”

Dan Aurora akhirnya tertawa.

***

15 Mei 2021, 23:00

Erina “Rina” Nayaka Kusuma, 35

“Apa Anda sudah berikan AF dosis siangnya?”

“Sudah.”

“Dan dosis malamnya?”

“Sudah.”

“Oke. Sepertinya obatnya bekerja. Naikkan dosis untuk AF, kita tidak boleh membiarkan dia ingat bahwa orang tuanya membuangnya di sini. Baik, itu saja, selamat malam semua dan ingat, Bagi Mereka yang Terluka.”

“Bagi Mereka yang Terluka.”

Jangan lupa untuk baca tulisan lainnya disini

Dan follow juga instagram Sibiru

Penulis : Rosiana Putri

Editor: Aya Firdaus

Ilustasi: Elisa Calista


Leave a Reply

Your email address will not be published.