Site Loader

Alur perjalanan kehidupan manusia sejak bayi hingga dewasa merupakan sebuah proses yang panjang, proses ini dapat dikatakan tidak lepas dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh sederhana, kita bisa berjalan, berbicara, dan menulis berkat adanya sebuah didikan dari orang tua. Berjalannya proses kehidupan manusia mengalami perkembangan yang kompleks. Maka dari itu, diciptakan sebuah sistem pendidikan untuk mendukung dan mengontrol perkembangan kehidupan manusia.

Pendidikan, bisa disebut sebagai sebuah sistem pembelajaran yang mampu membantu perkembangan peradaban manusia dalam menghadapi revolusi zaman. Jika dianalogikan, ilmu pengetahuan seperti data atau file yang ingin diserap kemudian dikembangkan oleh manusia. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan dapat berkembang secara terus-menerus. Kemudian, pendidikan di sini memiliki peran sebagai jembatan manusia untuk meraih ilmu pengetahuan.

Dunia memang tidak lepas dari inovasi dan kreativitas, dua hal ini sungguh memberikan dampak positif terhadap peradaban manusia. Bisa dikatakan inovasi dan kreativitas menjadi pembuktian dari kemajuan pendidikan dalam suatu bangsa. Memang keberhasilan pendidikan sudah menjadi sebuah cita-cita di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia sendiri, pernyataan ini didukung oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yang menjelaskan tujuan pendidikan nasional, yakni untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

            Standar keberhasilan pendidikan bisa dilihat dari gambaran yang ada di UU No.20 Tahun 2003 tersebut, yaitu memperoleh keberhasilan pendidikan di bidang ilmu pengetahuan dan nilai agama. Faktor keberhasilan pendidikan ditunjang dengan adanya sistem kurikulum yang menarik dan konsisten, jumlah mata pelajaran yang cukup, dan sistem pembagian waktu yang efektif. Keberhasilan pendidikan tidak hanya memfokuskan anak-anak kepada ilmu pengetahuan formal yang diajarkan di sekolah, tetapi juga adanya pembelajaran kehidupan, seperti pelatihan keterampilan, nilai agama, cara bersosialisasi, dan sebagainya. Sebuah keberhasilan tidak hanya melulu tentang ilmu pengetahuan formal.

            Indonesia memiliki latar belakang negara multikultural dengan beragam suku, agama, dan ras. Peran pendidikan di negara multikultural yaitu menyatukan perbedaan latar belakang agar saling memberikan kontribusi, menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat, serta menghilangkan paradigma negatif terhadap suatu kebudayaan. Pendidikan multikultural didasarkan pada kenyataan bahwa siswa tidak belajar dalam kekosongan, budaya mereka mempengaruhi mereka untuk belajar dengan cara tertentu (Parkay dan Stanford, 2011: 35). Sehingga, pendidikan multikultural pun dapat dijadikan sebagai instrumen strategis untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya.

Proses pembelajaran merupakan hal yang kompleks dan rumit, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya kegagalan dalam pelaksanaan peran pendidikan bagi bangsa Indonesia. Kegagalan pendidikan di Indonesia masih menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Hal itu bisa jadi karena adanya perbedaan zaman yang mempengaruhi sistem. Maurianne Adams dan Barbara J. Love menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Faktor pertama yaitu faktor bawaan siswa. Faktor ini terdapat pada pembawaan siswa yang memiliki dua sifat, yaitu umum dan pribadi. Kedua, faktor bawaan guru. Hampir sama seperti siswa, tetapi dalam kenyataannya sering terjadi prasangka negatif dalam mengajar yang kemudian memberikan efek negatif kepada siswa. Ketiga, faktor pedagogi, dan yang terakhir adalah faktor isi kurikulum.

Mirisnya pendidikan di Indonesia yang masih belum merata ke seluruh penjuru negeri. Fasilitas yang hanya berfokus di kota-kota besar, juga masih banyak sekolah yang tidak terawat dengan baik. Permasalahan ini sudah terjadi selama bertahun-tahun dan tidak ada penyelesaian yang komprehensif. Mungkin alasannya sama seperti permasalahan lain, yakni fokus yang lebih tertuju ke hal-hal lain yang tidak penting. Sudah terlalu lama kita mendengar janji-janji palsu dari pihak penguasa yang boleh dibilang pembodohan secara luas. Anak-anak harus pergi ke sekolah melewati rintangan-rintangan yang mengelilingi mereka, contohnya saja anak-anak di pelosok daerah. Mereka harus bangun pagi-pagi untuk menuntut ilmu, melewati jalan yang begitu menyeramkan dengan jarak yang sangat jauh dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun, pemerintah masih belum memberikan solusi untuk mereka agar bisa menuntut ilmu dengan lancar.

            Selain itu, perbedaan perlakuan terhadap siswa sering dialami oleh siswa yang memiliki keterbatasan baik dalam ekonomi maupun hal lain. Mereka sering mengalami bullying secara eksplisit maupun implisit oleh lingkungan yang ada di sekolah. Seharusnya sekolah menjadi tempat untuk berekspresi dari menyalurkan kreativitas bagi anak-anak, serta menjadi wadah untuk saling memberikan edukasi. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Bagi mereka yang menjadi korban, sekolah bagaikan tempat yang menakutkan, bahkan bisa dikatakan sekolah itu seperti neraka. Ini dapat memberikan dampak negatif terhadap mental mereka. Stres menjadi salah satu dampak bullying di sekolah. Bahkan, terdapat beberapa kasus bunuh diri yang akibat dari bullying di sekolah.

            Penetapan kurikulum yang sering mengalami perubahan masih menjadi pro dan kontra di dalam kehidupan siswa. Beberapa orang tua murid tidak menyetujui penetapan kurikulum yang berlaku. Memang menteri pendidikan masih mengevaluasi keefektifan kurikulum yang berlaku, sehingga sampai saat ini masih belum ada keputusan resmi mengenai perubahan kurikulum tersebut. Jika menilai secara subjektif terhadap siswa, kurikulum yang berlaku saat ini masih belum efektif. Hal tersebut terlihat dari waktu belajar yang terlalu padat yang akhirnya menjadi beban bagi siswa-siswi. Selain itu, akan lebih baik jika siswa-siswi lebih difokuskan terhadap kemampuan bersosialisasi, kemampuan untuk memahami nilai agama, dan kemampuan dalam hal-hal yang memang diminati. Mungkin penerapan ini bisa memberikan dampak yang lebih baik.

            Permasalahan lain adalah Indonesia masih kekurangan guru yang terampil dalam mengajar. Hal ini salah satunya disebabkan pendapatan beberapa guru yang masih dibawah UMR. Ketidakadilan itu sering terjadi oleh guru-guru yang bukan PNS. Selain itu, masih banyak guru-guru bersertifikasi yang lebih memilih untuk mengajar di sekolah-sekolah yang berada di kota besar. Hal tersebut menyebabkan penyebaran guru yang kurang merata.

Keberhasilan pendidikan sudah menjadi cita-cita setiap masyarakat dalam mengelola akal dan budinya masing-masing. Seiring berputarnya bumi, segala bentuk kemajuan terus bertambah. Secara tidak sadar kita berperan dalam kemajuan tersebut, dan pendidikan memberikan kita ilmu untuk menghadapi kemajuan tersebut. Inovasi dan kreativitas turut diperlukan untuk menghadapi kemajuan tersebut. Sayangnya, kurangnya pemerataan pendidikan masih menjadi permasalahan. Daerah-daerah terpencil tidak merasakan apa yang orang-orang kota rasakan. Sungguh tidak adil, tetapi itu nyata adanya. Bagi mereka yang tidak mampu, pendidikan itu mahal. Miris sekali, apakah di masa yang akan datang permasalahan ini dapat selesai?  

Jangan lupa untuk baca tulisan lainnya disini

Dan follow juga instagram Sibiru

Penulis: Ivanodei Patrick Sinaga

Editor: Lydia Tesa

Sibiru

Media mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad! Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ), kami siap berbagi opini tidak penting biar kami kelihatan rada aktif nan intelek.

One Reply to “Kenyataan Sistem Pendidikan Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *