Site Loader

Dilansir dari Kompas, Hari Bumi lahir pada tahun 1970 dari rasa peduli seorang pengajar di Amerika bernama Gaylord Nelson karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California pada tahun 1969. Kepeduliannya menghasilkan sebuah inspirasi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai lingkungan. Aksi pertama dalam upaya memperingati Hari Bumi pun berhasil diikuti oleh dua puluh juta penduduk Amerika.

Apa Kabar Bumi Kita?

Bumi kita telah renta, kepedulian kita tak boleh sirna. Ada begitu banyak keajaiban serta keindahan di Bumi yang telah dinikmati oleh manusia di seluruh dunia. Keindahan itu dapat luntur kapan saja ketika kepedulian dan rasa cinta untuk Bumi terkikis perlahan. Di usianya yang semakin senja, apa lagi yang tersisa bagi anak cucu kita kedepannya?

Bumi kita bukan hanya untuk manusia, ada flora dan juga fauna. Namun, manusia memiliki kewajiban amat besar untuk tetap menjaganya. Katanya, manusia adalah pemimpin di muka Bumi, maka jadilah pemimpin yang baik, yang tak pernah merusak wilayahnya sendiri.

Hari Bumi digalakkan, tetapi sampah masih menggunung dan berserakan. Dilansir dari National Geographic Indonesia, sampah plastik di Bumi sudah di luar kendali. Sekitar 11% dari seluruh sampai plastik di dunia, sekitar 24−34 juta ton sampah plastik, masuk ke laut setiap tahunnya. Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah studi yang kemudian dipublikasikan melalui jurnal Science. Bahkan, dinyatakan dalam IFL Science, peneliti memperkirakan keadaan yang semakin buruk, yaitu peningkatan jumlah sampah plastik hingga 53−90 ton dalam satu dekade mendatang.

Masalah lainnya timbul dari partikel mikroplastik berukuran 5 milimeter hingga 100 nanometer yang berasal dari penguraian sampah plastik. Contohnya seperti botol kemasan yang telah menyusup hampir ke setiap ekosistem di Bumi dan bahkan dapat ditemukan pada kotoran maupun organ tubuh manusia.

Bumi Kita Begitu Sempurna

Lebih dari tujuh miliar manusia, lebih dari tujuh juta spesies fauna yang telah diketahui dan entah berapa banyak lagi yang belum dieksplorasi, serta begitu banyak pula flora hidup di Bumi. Seluruh makhluk hidupnya belum atau bahkan tak akan pernah diketahui jumlah pastinya. Manusia dengan kekurangannya, tak pernah tahu tentang seberapa banyak spesies yang saat ini hidup di Bumi.

Sejatinya, menghitung makhluk di bumi merupakan perkara yang amat sulit. Bumi kita terlalu luas dan banyak sekali medan yang tak dapat diakses dengan mudah. Ada makhluk amat kecil yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang atau yang hidup dalam tubuh makhluk hidup lainnya.

Bumi adalah tempat yang sempurna untuk kehidupan kita. Kita berjalan, berlari, tertidur, dan bernapas setiap harinya di atas tanah yang membentang amat luas. Kita minum dari air milik Bumi, kita bertahan hidup dengan makanan yang berasal dari Bumi. Lebih dari itu, atmosfer milik Bumi melindungi kita dari paparan radiasi sinar ultraviolet yang berbahaya dan juga melindungi kita dari meteor yang bergerak menuju arahnya. Bumi kita telah melakukan tugasnya dengan begitu baik.

Sesekali teguran hadir di tengah kehidupan manusia sebagai upaya mengingatkan kita semua untuk terus menjaganya. Seperti ibu yang menasehati anaknya untuk berlaku baik, seperti ayah yang membentak anaknya saat kesalahannya sudah terlalu. Bumi juga melakukannya, melalui peristiwa-peristiwa yang tak terduga.

Seberapa Besar Cinta yang Tersisa untuk Bumi Kita?

Kehidupan manusia bermula jauh sebelum tahun masehi, tak terhingga jumlahnya yang hidup dan telah kembali pada alam, entah kepada tanah, laut, dinding batu, atau tempat-tempat peristirahatan lainnya. Tugas untuk terus menjaga keindahan dan keasliannya sudah sepenuhnya milik manusia yang hidup saat ini.

Manusia memang tak bisa mengembalikan Bumi seperti sedia kala, tapi, manusia bisa mencegah untuk tidak memperburuk keadaannya. Jika hal besar belum mampu dilakukan, maka mulailah dari hal yang paling kecil. Berani memulai adalah suatu hal yang luar biasa, tak masalah jika apa yang kita lakukan dianggap tak seberapa.

Memulainya dengan hal kecil jauh lebih baik dibanding tak pernah memulai sama sekali. Kita bisa memulainya dengan berhenti menggunakan plastik sekali pakai, membuang sampah pada tempat yang disediakan, mendaur ulang sampah, serta hal-hal sederhana lainnya.

Cinta untuk Bumi tak boleh sirna, kumpulkan kembali kasih sayang dan kepedulian yang pernah ada. Seberapapun cinta yang tersisa, mari kita jaga serta tingkatkan untuk kedepannya. Mari lihat lingkungan sekitar kita dan mari peduli pada segala hal yang berdampak pada Bumi kita. Sebab masa depan Bumi adalah masa depan kita jua.

Selamat Hari Bumi!

Jangan lupa untuk baca tulisan lainnya disini

Dan follow juga instagram Sibiru

Penulis : Ririn Ariana
Editor: Rosiana Putri Muliandari

Sibiru

Media mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad! Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ), kami siap berbagi opini tidak penting biar kami kelihatan rada aktif nan intelek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *