Site Loader

Ada dua tipe manusia ketika diberikan pekerjaan dengan deadline yang sudah ditentukan: mereka yang langsung mengerjakan pekerjaannya dan mereka yang memilih untuk menunda, selagi deadline-nya bukan hari ini. Kita semua pun bisa menebak bahwa mereka yang langsung mengerjakan tugasnya, cenderung tidak akan merasa dihantui oleh deadline dan akan merasakan ketenangan yang lebih cepat daripada mereka yang menunda pekerjaan. Namun, kenapa beberapa dari kita tetap memutuskan untuk menunda-nunda pekerjaan?

Procrastination (prokrastinasi) adalah sebuah istilah yang bisa menggambarkan para penunda pekerjaan. Secara etimologi, kata “procrastination” berasal dari bahasa Latin, yaitu procrastinare yang berarti menunda sampai besok. Dalam prokrastinasi yang kerap kita lakukan, besok bisa berarti kapan saja, entah minggu depan, bulan depan, bahkan detik-detik terakhir sebelum deadline

Kenapa Kita Melakukan Prokrastinasi?

Kembali pada pertanyaan awal, jika kita sudah mengetahui konsekuensi dari menunda-nunda pekerjaan, kenapa kita masih memutuskan untuk melakukan prokrastinasi? Kenapa terkadang kita terus-terusan mencari kegiatan lain yang barangkali lebih menyenangkan untuk dilakukan terlebih dahulu daripada mengerjakan tugas? Apakah hal itu kita lakukan semata-mata karena kita malas?

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Fuschia Sirois, seorang profesor psikologi dari University of Sheffield melalui The New York Times, “Tidak masuk akal untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan memiliki berbagai efek negatif.”

“Orang-orang terlibat dalam siklus irasional prokrastinasi yang kronis karena ketidakmampuan untuk mengatur moods negatif dari pekerjaannya.” tambah Dr. Fuschia Sirois. Jadi, dapat dikatakan bahwa kita melakukan prokrastinasi karena mood. Prokrastinasi pun bukanlah hasil dari kemampuan mengatur waktu yang buruk, tetapi tentang bagaimana kita mengatur berbagai emosi dan moods negatif yang dipicu oleh tugas tertentu, seperti rasa bosan, frustrasi, rasa ragu terhadap diri sendiri, dan lain sebagainya.  

Dilansir dari Psychology Today, pada dasarnya, kita melakukan prokrastinasi karena kita tidak percaya bahwa mengerjakan pekerjaan tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga kita akhirnya menghindarinya atau semata-mata merasa takut jika seandainya pekerjaan tersebut tidak bisa terselesaikan dengan baik. Selain itu, kerumitan dari suatu pekerjaan, distraksi, dan rasa lelah bisa menjadi faktor yang memicu prokrastinasi.

Cara Menghentikan Prokrastinasi

  1. Know yourself

Beberapa dari kita mungkin merasa bisa mengerjakan sesuatu di bawah tekanan atau sangat mengandalkan yang namanya the power of kepepet. Meskipun begitu, pada akhirnya tugas tetap bisa terselesaikan dengan baik. Nyatanya, terdapat dua jenis procrastinator, seperti yang dilansir dari Psychology Today. Pertama, yaitu active procrastinator. Adalah mereka yang mengerjakan sesuatu dengan lebih baik di bawah tekanan, tetapi penuh strategi. Orang-orang yang kelihatannya mengandalkan the power of kepepet, mungkin saja telah melakukan perencanaan yang lebih baik sebelumnya. Mereka pun lebih memilih untuk merasakan adrenalin dikejar deadline.  

Kedua, passive procrastinator. Merekalah orang-orang yang melakukan prokrastinasi karena terdistraksi. Para passive procrastinator mungkin memutuskan untuk tidak mengerjakan pekerjaan mereka karena lebih memilih untuk menonton series di Netflix. 

  1. Self- forgiveness

Ketika kita akhirnya menyadari bahwa prokrastinasi dipicu oleh emosi, maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengatur emosi kita menggunakan cara yang baru. Salah satu caranya, berdasarkan The New York Times, adalah dengan memaafkan diri sendiri untuk prokrastinasi yang dilakukan di masa lalu. Berdasarkan sebuah studi, peneliti menemukan bahwa para siswa yang bisa memaafkan diri mereka ketika melakukan prokrastinasi belajar untuk ujian pertama, berakhir dengan “kadar” prokrastinasi yang menurun pada saat belajar untuk ujian kedua. 

Dengan memaafkan diri sendiri, kita membiarkan masa lalu berakhir begitu saja dan tidak menjadikannya beban dalam menghadapi tugas-tugas ke depannya. Intinya, jika kita menyadari bahwa kita sudah melakukan prokrastinasi, maafkan diri sendiri dan jangan diulangi lagi.

  1. Self-compassion

Self-compassion adalah cara kita memperlakukan diri sendiri dengan baik dan memahami kesalahan dan kegagalan yang kita alami. Self-compassion dapat memunculkan motivasi dan perkembangan diri. Selain itu, juga dapat meningkatkan self-worth dan emosi positif, seperti optimisme dan inisiatif diri. Salah satu cara untuk menerapkan self-compassion adalah dengan melihat sisi positif dari suatu pekerjaan. Coba pikirkan jika pekerjaan itu akhirnya terselesaikan, dampak positif apa saja yang bisa kita dapatkan, alih-alih memikirkan tentang kerumitan atau betapa tidak menyenangkannya pekerjaan tersebut.

Pada dasarnya, jika kita ingin berhenti melakukan prokrastinasi, ketahuilah bahwa wajar saja kalau kita merasa bingung, clueless, dan kurang sempurna di awal. Jadi, cobalah cari tahu akar dari munculnya berbagai emosi terhadap suatu pekerjaan, bukannya malah menghindar. Tanyakan pada temanmu tentang tugas yang membingungkan itu sekarang. Netflix dan drama korea bisa menanti.

Jangan lupa untuk baca tulisan lainnya disini

Dan follow juga instagram Sibiru

Penulis: Tasyarani Aca

Editor: Azzahra Firdaus

Sibiru

Media mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad! Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ), kami siap berbagi opini tidak penting biar kami kelihatan rada aktif nan intelek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *