Site Loader

Terlihat tulisan “Everything will be OK” di baju milik Deng Jia Xi saat berdemonstrasi melawan junta militer di jalanan Mandalay, Myanmar, pada Rabu, 3 Maret 2021.

Meskipun begitu, Deng Jia Xi, yang juga dikenal sebagai Kyal Sin, sadar bahwa semuanya belum tentu OK saat ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam demonstrasi—meninggalkan informasi golongan darah, kontak, dan pesan permintaan untuk mendonorkan organ tubuhnya jika ia gugur dalam gerakan.

Aktivis muda perempuan yang masih berumur 19 tahun tersebut menjadi salah satu dari puluhan martir gerakan yang ditembak mati oleh pasukan aparat keamanan Myanmar.

Deng Jia Xi dan masyarakat Myanmar lainnya memperjuangkan demokrasi, yang mana ia dengan bangga memberikan hak suaranya untuk pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi yang digulingkan oleh militer.

“Ketika polisi melepaskan tembakan, dia mengatakan kepada saya ‘Duduk! Duduk! Peluru akan menghantammu. Kamu terlihat seperti berada di atas panggung’,” cerita Myat Thu—yang saat itu bersama dengan Deng Jia Xi—dilansir dari reuters.com.

Ketulusannya membantu demonstran lain dengan menendang pipa air untuk mencuci mata mereka dari gas air mata, menendang kembali gas air mata ke arah aparat, hingga dengan lantang berteriak “Kami tidak akan lari” dan “Darah tidak boleh ditumpahkan”, menjadikan Deng Jia Xi simbol keberanian dan perlawanan pemuda.

Keterlibatan Deng Jia Xi dalam demonstrasi prodemokrasi Myanmar kembali mengingatkan dunia tentang peran anak muda dalam gerakan sosial-politik.

Menurut Earl, Maher, dan Elliott (2017) dalam studinya tentang pemuda, aktivisme, dan gerakan sosial, terlepas dari bukti empiris yang sangat kontradiktif, pemuda dianggap kurang terlibat dalam permasalahan sosial-politik ketimbang orang dewasa. Pemuda juga kerap diperlakukan sebagai anggota masyarakat yang belum siap memahami politik dan harus diajari terlebih dahulu cara untuk terlibat di dalamnya.

Padahal, dalam studi yang sama juga dijelaskan, keterlibatan pemuda dalam persoalan politik adalah sesuatu yang mereka pilih dan lakukan untuk diri mereka sendiri.

Riezal Ilham Pratama, mahasiswa Universitas Padjadjaran yang juga sempat menjadi Ketua BEM Kema Unpad pada 2020 mengemukakan pendapatnya tentang aktivisme pemuda dalam gerakan sosial.

“Panggilan buat pemuda adalah kapan kita merasa kita harus turun (terlibat dalam gerakan), kapan kita diperlukan, dan kapan kita merasa harus melakukan the right things to do (hal yang perlu dilakukan),” ujar Riezal.

Menurut Riezal, gerakan sosial hadir bukan karena orang-orang di dalamnya ingin merasakan hasil dari gerakan saat itu juga, melainkan karena hal itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Perjuangan dalam gerakan sosial, kata Riezal, bukan hal yang instan.

Aksi protes atau demonstrasi menjadi salah satu metode perjuangan yang melekat dalam gerakan sosial. Meskipun begitu, di era digitalisasi saat ini, gerakan sosial mendapat pengaruh besar dari media sosial. Maka masih bisa kah demosntrasi dinilai relevan?

Zeni Tri Lestari, aktivis muda perempuan dari Universitas Indonesia, menganggap bahwa demonstrasi tidak boleh dilupakan.

“Dengan adanya skema baru (aktivisme digital), kita nggak boleh melupakan cara-cara lama dalam gerakan sosial politik kayak demonstrasi. Skema pergerakan aktivisme digital itu sebagai gerakan komplementer, bukan substitusi dari gerakan demonstrasi,” jelas Zeni.

Riezal juga berpendapat sama, “Presiden nggak bisa lagi bilang rakyat setuju ketika sudah banyak orang datang ke jalanan. Ini menunjukkan masyarakat betul-betul ingin menyampaikan aspirasinya, dimana political will dia (pemerintah) untuk menerima aspirasi.”

Keberanian dan persiapan Deng Jia Xi dalam demonstrasi menjadi sorotan warganet dengan membandingkan aksi demonstrasi Myanmar dan Indonesia.

Terlihat unggahan dari akun Twitter @frhnxxzle disertasi dengan foto Deng Jia Xi dan demonstran Indonesia, “Di Myanmar mereka berdemo dengan tegang, di negara kita sudah ga baca ruu joget tiktok alay -_ Rest in Power.”

Zeni berpendapat bahwa demonstrasi merupakan tempat untuk meluapkan amarah dan keresahan terhadap masalah yang sedang di hadapi.

“Justru gue sangat mendukung joget TikTok saat demonstrasi. Demonstrasi itu ruang dan waktu di mana kamu bisa mengekspresikan amarahmu, mau orasi silakan, mau angkat poster silakan, mau joget TikTok juga silakan. Apa yang harus dan tidak dilakukan saat demonstrasi, siapa yang menentukan? Itu regulasi dan diri kita sendiri, selama itu harmless, kenapa nggak?” menurut Zeni.

Sedikit berbeda, Riezal beranggapan bahwa hal tersebut memiliki dua dampak yang berbeda.

“Dampaknya jadi dua, orang nggak takut ikut gerakan karena dulu gerakan terkesan eksklusif. Tapi yang kedua jadinya tidak tepat sasaran, harusnya orang-orang fokus ke apa yang jadi isu, tapi banyaknya poster nyeleneh, orang yang main TikTok. Satu sisi jadi inklusif, tapi di sisi lain akhirnya jadi tidak sesuai tujuan,” ujar Riezal.

Menurut Riezal terdapat sedikit perbedaan tentang konteks ‘seru-seruan’ saat berdemonstrasi. Ia tidak masalah dengan demonstrasi yang dibuat seru-seruan, tetapi mesti sesuai dengan konteks.

Ketika aksi bernyanyi dan menari bersama seluruh peserta aksi, kata Riezal, maka narasi aksi adalah bernyanyi dan menari. Namun, ketika kamu bernyanyi dan menari untuk konten pribadi, maka kamu tidak tergabung dalam satu narasi.

“Biar orang punya mindset tentang aksi itu nggak serem-serem melulu, aku sepakat banget dengan gaya gerakan yang seperti ini,” jelasnya.

Meskipun begitu, banyak hal yang dapat dipelajari dari pemuda yang menguasai bela diri taekwondo dan gemar menari tersebut. Ya, sosok Deng Jia Xi yang diingat oleh orang-orang sebagai sosok pemudi pemberani dan tulus berjuang untuk negara.

“Wajib banget kita belajar dan refleksi dari persiapannya Deng Jia Xi  saat demonstrasi. Kita bisa pertimbangkan juga izin ke orang tua, informasi-informasi yang terjadi tentang hal-hal yang nggak mengenakkan saat demonstrasi, dan nggak pergi sendiri tapi bareng teman,” kata Zeni.

Riezal juga menonjolkan beberapa hal yang dapat demonstran Indonesia pelajari dan apresiasi dari sosok Deng Jia Xi.

Preparation dan passion. Satu hal yang harus diapresiasi adalah will to sacrifice dia benar-benar dari hati, dengan donorin organ dia yang masih bisa dipakai buat orang lain. Adalah ketika dia hadir untuk orang lain,” tukas Riezal.

Sumber terkait, dan jangan lupa untuk baca tulisan lainnya disini

Penulis: Putri Indy Shafarina

Editor: Lydia Tesa

Sibiru

Media mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad! Di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ), kami siap berbagi opini tidak penting biar kami kelihatan rada aktif nan intelek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *