Home Kontributor Nasib Anak Rantau, Ramadan di Jatinangor Kala Pandemi

Nasib Anak Rantau, Ramadan di Jatinangor Kala Pandemi

Nasib Anak Rantau, Ramadan di Jatinangor Kala Pandemi

Bicara tentang corona virus, dari awal masuknya mereka ke Indonesia pada akhir Februari, mulai banyak universitas yang meliburkan mahasiswanya untuk kembali ke rumah masing-masing. Termasuk kampus kesayangan masyarakat Jatinangor, yaitu Universitas Padjadjaran. Halo, aku Ken Lingga, mahasiswa UNPAD semester 6 yang berasal dari Jakarta, namun masih menetap di Jatinangor sampai saat ini. Dan aku akan menceritakan bagaimana rasanya menetap di sini saat pandemi menyerang, khususnya saat bulan Ramadhan menuju Lebaran.

Mungkin sepintas di pikiran kalian ada pertanyaan, “Ngapain, sih? Kok masih di Nangor?” Hmm pasti. Jadi, alasan aku kenapa masih di sini salah satunya adalah ingin menjauh dari virus epicentrum yang ada di Jakarta. Lalu aku harus menyelesaikan tugas skripsi mulai dari BAB I & BAB II, dan pekerjaan luar kampus. Karena aku adalah tipe orang yang hanya bisa fokus di saat aku sendiri, jadi aku memutuskan untuk menetap di sini sampai keadaan membaik.

Sebenarnya, keadaan di Jatinangor saat pandemi tidak seburuk dan tidak membosankan seperti yang kalian kira. Ya meskipun itu tergantung dari kegiatan apa yang kalian lakukan, tapi setidaknya di sini tidak benar-benar “mati”. Terbukti di akhir bulan Maret sampai April selesai, masih banyak sekali toko yang buka. Namun, memang beberapa sudah tutup tapi yang masih buka pun sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan tempat makan yang kalian kira sudah tutup, sampai sekarang masih ada yang buka.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang rutinitas dan kegiatan, di waktu-waktu seperti ini keseharian ku seolah terbalik. Tidur jam 5 pagi, dan bangun jam 2 siang. Padahal kalau biasanya, aku tidur jam 10 atau 11 malam dan bangun pagi. Tiap harinya, karena aku kebetulan seorang desainer grafis amatiran, aku selalu menyelam ke dunia tersebut untuk mencari referensi dan pembelajaran. Sekaligus aku sering “iseng” membuat  artwork yang akhirnya aku unggah ke media sosial. Tidak hanya itu, karena di kamar ada piano, aku sering bermain piano di kala bosan.

Di saat menjelang buka puasa, aku selalu menjemput teman ku untuk bukber kecil-kecilan. Bahkan, seringkali aku buka puasa di warung nasi yang baru saja buka 2 bulan yang lalu Saking seringnya aku dan temanku makan di sana, bapak yang punya tempat tersebut sudah menganggap kami sebagai keluarga, “keluarga pandemi” katanya. Bahkan kami sampai “disuruh” untuk berlebaran di sana, karena beliau dan keluarganya akan memasak ketupat lengkap dengan sayur dan opornya. Terlepas dari baik dan ramahnya beliau, kalian harus coba masakannya, tempatnya bersih pula.

Malam harinya, aku melanjutkan tugas skripsi yang ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Dikarenakan banyak sumber yang tidak lengkap, dan susahnya mencari sumber yang kredibel. Oh iya, ngomong-ngomong aku dari jurusan Sastra Rusia. Jadi bisa kalian bayangkan susahnya mencari sumber teori linguistik berbahasa Rusia, yang bahkan teori tersebut sudah berumur ratusan tahun. Kesulitan mencari teori di internet sebenarnya bisa diakali dengan mencari buku dan jurnal-jurnal yang ada di perpustakaan Fakultas. Namun sayang, perpustakaan sudah tutup dari bulan Maret, dan aku tetap harus mengerjakan tugas skripsi meskipun minim sumber.

Biasanya, kalau sudah mumet mengerjakan tugas, aku lanjut menonton serial film seperti Narcos : Mexico dan Peaky Blinders. Karena cukup memakan waktu dan kebetulan seru, juga menarik. Selepas binge watching, aku lanjut menonton video-video pembelajaran tentang seni rupa dan desain visual, sampai akhirnya tidak sengaja tertidur. Atau biasanya aku menyalakan speaker untuk memutar lagu, namun kalau yang ini sepertinya mengganggu sekitar. Karena aku suka mendengar musik dengan volume yang cukup keras, namun aku juga ga akan memutar lagu-lagu yang “keras” juga, hehe.

Mungkin kalau ditanya bagaimana rasanya menetap di Jatinangor selama pandemi, aku akan menjawab seru dan biasa saja pada saat bersamaan. Aneh sih, tapi memang mixed feelings gini. Karena ada momen beberapa hari aku melakukan banyak kegiatan, dan beberapa hari selanjutnya benar-benar tanpa kegiatan. Oh ya, dan cukup menggoyahkan keadaan mental juga, loh. Karena kita  terus-terusan ada di dalam satu ruangan yang sama tiap harinya.

Kalau saat bulan Ramadhan begini, stay at home ampuh banget menjaga puasa biar full day, karena ga kemana-mana juga dan ga bikin lapar. Tapi malah jadi kangen rumah apalagi menuju lebaran.Ppasti di rumah masak opor ayam lengkap dengan sambel goreng kentang dan ketupatnya. Wah, bagian itu sih yang bikin aku kadang nyesel masih di sini. Cuma ya apa boleh buat kalau keadaannya begini.

Ya.. semoga aja deh pandemi ini cepat selesai, dan pemerintah makin serius menanganinya Masyarakatnya juga semoga makin ga “ngeyel” kalau diberi tahu. Semoga semua cepat pulih, dan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Stay safe and stay sane, peeps!

Penulis: Ken Lingga

Editor: Ridzky Rangga Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published.