Home Dangkal Artikel Opini Pallbearers Dance: Tarian Penghibur WFH

Pallbearers Dance: Tarian Penghibur WFH

Pallbearers Dance: Tarian Penghibur WFH

Saya adalah pengguna aktif Twitter yang jarang berkicau, hanya menyimak timeline dan sesekali mengetuk tombol like jika ada konten lucu. Rata-rata video atau foto yang saya like seputar hal-hal konyol, paling mendingan video kucing.

Belum lama ini, saya teralihkan pada salah satu konten di Twitter yang menghibur sekali buat saya. Sekelompok pria dengan setelan seragam formal dan topi khas lalu menari sambil mengangkat peti mati. Namanya Pallbearers Dance, tradisi asal Ghana ini seketika viral karena ulah warganet yang kreatif. Andai saja Piala Dunia ada di tahun ini, tarian ini bisa jadi selebrasi gol timnas Ghana.

Tugas kelompok Pallbearers sama saja dengan pembawa peti mati pada umumnya, sama-sama membawa jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Perbedaannya ada di tarian tersebut. Di sana, mereka bisa menyewa kelompok Pallbearers untuk mengangkat jenazah sambil berdansa ria, diiringi lagu, bahkan kerabatnya ada yang ikut menari. Kok bisa?

Dilansir dari BBC News, hal itu karena sudah menjadi tradisi mereka membuat upacara kematian sebagai prosesi yang penting. Maka dari itu, orang-orang Ghana ingin membuat perayaan yang lebih berkesan dan spesial. Berbeda dengan negara kita, orang-orang lebih peduli kualitas supaya lebih berkesan, sewa gedung yang bagus, dan undang tamu sebanyak-banyaknya, sampai maunya dimakamkan di San Diego Hills.

Namanya tradisi, itu merupakan kepercayaan yang mungkin sudah melekat pada rohani mereka. Namun, pantas ga sih tradisi seperti itu dijadikan bahan lelucon?

Saya tidak bisa bilang ‘ga’ karena saya menikmati konten tersebut, tapi saya juga tidak bisa bilang ‘iya’ karena saya gamau dibilang sotoy. Perspektif orang tentu berbeda-beda dan saya tidak bisa memaksa ikut perspektif saya, tetapi setidaknya izinkan saya sedikit menjelaskan dari kacamata saya sendiri.

Sejauh ini, konten video ini masih berada dalam batas wajar, tidak melewati batas manusiawi dan tidak menyerang etnis tertentu. Mungkin yang harus dipertanyakan adalah sensitivitas kalian yang dikit-dikit bilang “dark jokes nih” atau “tolong di sini terlalu gelap”. Wahai pengguna baru Twitter, cobalah beradaptasi dan jangan norak!

Daripada memperdebatkan pantas atau tidak konten tersebut, lebih baik konten tersebut dibuat lebih menarik, kalau bisa direalisasikan untuk masa mendatang. Saya bukan content creator, tapi saya ada beberapa ide orang-orang yang cocok dimakamkan dengan tradisi Pallbearers. Bedanya kita buat pesta yang megah, dan rayakan kematian orang-orang ini. Simak!

  • Warga Amerika Serikat (AS)

Pada 19 April 2020 silam, warga AS berbondong-bondong turun ke jalan untuk mendemo pencabutan lockdown di beberapa negara bagian. Bahkan, Presiden AS Donald Trump mendukung aksi ini, lho. Denger-denger sih karena ada perbedaan pandangan politik, ckckck. Mau masyarakatnya, mau presidennya, sama-sama susah diatur!

  • Dinda Shafay

Orang keren, nih. Aloe vera dijadiin adonan hand sanitizer. Belum lagi dicampur juga sama alkohol 96%. Tanpa kenal kapok, dia buat lagi versi kedua cairan antiseptik dipake buat pengharum ruangan. Kontroversi dari Dinda Shafay masih banyak lagi, tapi saya sebutin dua aja supaya saya tidak dianggap penyebar kebencian.

Manusia seperti Dinda Shafay ini enaknya dimasukin ke peti mati, terus basahi dengan alkohol 96%, abis itu dikocok-kocok pake tarian Pallbearers.

  • Predator “Berkacamata”

Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, langsung saja kita panggilkan kesebelasan cowo berhidung belang yang kebetulan berkacamata. Entah apa yang mereka pikirkan sampai bisa kompak melakukan pelecehan seksual dan berkacamata. Ya sudah tanpa basa-basi kita masukkan saja mereka ke dalam peti mati ya, tapi satu peti berdua.

Yap, secara keseluruhan itu orang-orang yang paling asyik dirayakan bersama para Pallbearers. Saya meminta maaf jika orang-orang pilihan saya terlalu sedikit dan tidak representatif, sedangkan kalian yang membaca mungkin punya daftar nama-nama pilihan kalian. Saya bukan orang yang mudah membenci, barangkali mereka predator berkacamata khilaf.

Ngomong-ngomong saya juga berkacamata, saya mewakili orang-orang berkacamata berharap besar tren predator berkacamata ini tidak berlanjut terus. Semoga rentetan ini bisa dipatahkan oleh para pendatang baru, yang tentu tidak berkacamata. Terima kasih

Penulis: Valerian Pradovi

Editor: Ridzky Rangga Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published.