Home Dangkal The Contagion: Fantasi yang Menjadi Kenyataan

The Contagion: Fantasi yang Menjadi Kenyataan

The Contagion: Fantasi yang Menjadi Kenyataan

Covid-19 menjadi momok buruk bagi semua orang saat ini. Penyebarannya yang tergolong cepat, ditambah dengan masyarakat yang kurang disiplin bahkan cenderung abai dalam menerapkan anjuran Pemerintah untuk menjaga jarak dan berdiam di rumah, memperparah banyaknya angka korban yang berjatuhan akibat virus ini. Sudah berjalan lebih dari 3 bulan, orang yang positif Covid-19 sudah mencapai angka 1.000.000 jiwa, lebih tepatnya sudah ada sekitar 1.015.850 pasien positif Covid-19 per 3 april 2020 di seluruh dunia. Dari jumlah pasien positif tersebut 53.216 orang diantaranya meninggal dunia dan 212.991 orang dinyatakan sembuh.

Dunia saat ini sedang sedang berperang dengan musuh yang tak kasat mata. Jangankan tentara, dukun-dukun Indonesia pun angkat tangan dengan penyakit ini. Namun sangat disayangkan masih banyak orang yang tidak sadar. Tak jarang juga masyarakat sudah mengetahui bahaya virus ini namun masih kekeuh untuk tak mengikuti anjuran yang diberikan pemirintah. Kondisi di Indonesia pun nampaknya tidak jauh berbeda. Sejak pasien positif pertama diberitakan ke khalayak luas, Pemerintah sudah mulai mempersiapkan amunisi perangnya dengan mengambil tindakan preventif dan kuratif untuk menghentikan laju penyebar Covid-19 di Indonesia.

Banyak langkah yang sudah diambil pemerintah untuk memutus arus penyebaran virus ini. Kegiatan belajar mengajar, pekerjaan kantor, hingga ibadah semuanya dianjurkan dilakukan dari rumah masing-masing guna menghindari adanya kerumunan yang dapat memicu penyebaran. Gerakan-gerakan pencegahan pun sudah sering digaungkan di berbagai macam medium, baik oleh pemerintah, influencers, dokter, maupun pihak-pihak lainnya. Namun sayang seribu sayang, nampaknya masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak sadar, otak batu dan menganggap remeh virus ini.

Percaya tidak percaya, ternyata bencana ini ternyata sudah di prediksi 9 tahun  lalu lewat sebuah film Hollywood bernama The Contagion. Judul film yang berarti penyebaran ini mengangkat tema keadaan dunia di tengah merebaknya wabah virus tak dikenal yang mematikan dan memiliki kecepatan penyebaran tinggi. Mungkin agak lebay sih kalau film ini dikatakan sebagai prediksi virus Corona. Tapi bagi kamu yang sudah menontonnya pasti sadar betapa miripnya situasi film itu dengan situasi kita sekarang.

The Contagion mengisahkan keadaan dunia yang kacau karena munculnya wabah virus mematikan. Ceritanya bermula ketika Beth Emhoff (diperankan oleh Gwyneth Paltrow) baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya di Hong Kong dan menderita batuk serta demam. Hari ke hari ia lewati kondisinya juga tidak kunjung membaik, hingga akhirnya ia tiba-tiba tidak sadarkan diri dan mengalami kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya, Mitch (diperankan oleh Matt Damon). Namun naas, Beth sudah tidak tertolong dan langsung meninggal seketika.

Setelah Beth meninggal, jumlah korban yang terjangkit virus MEV-1 semakin tinggi dan mulai menimbulkan perhatian banyak pihak. Virus tak kasat mata yang menyebar lewat udara ini menimbulkan banyak korban. Terlebih lagi pada awalnya orang-orang hanya menganggap gejala virus ini sebagai batuk dan demam biasa sehingga belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa. Akibatnya, orang-orang pun masih banyak yang beraktivitas. Orang-orang pun mulai panik dan bertindak sesuka hati bak lagi dua sejoli kasmaran (serasa dunia milik berdua uhuy). Banyak orang yang mulai melakukan beragam tindakan kriminal dengan menjarah toko, merampok rumah, mencuri hati kamu,  hingga melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan.

Di tengah kondisi dunia yang penuh tekanan dan kepanikan, keadaan semakin dibuat ricuh dengan beredarnya hoaks mengenai obat alternatif (frostyia) yang dapat menyembuhkan virus MEV-1 yang disebarkan oleh Alan Krumwiede (diperankan oleh Jude Law) pada akun blog miliknya. Tak hanya satu dua orang yang percaya pada informasi hoaks yang disampaikannya, tapi sampai 12 juta orang yang datang ke blognya percaya akan hasil karangan Alan tersebut. Yah sebelas dua belaslah sama orang-orang di Indonesia yang sering banget ketipu sama hoaks. Apalagi yang bikin kesel udah tau salah masih ngotot banget sama jawabannya. Ayo ngaku pasti kamu pernah ketemu tipikal orang yang kayak gini kan~.

Pada adegan lain digambarkan betapa kerasnya perjuangan para tenaga ahli kesehatan sebagai garda terdepan untuk mencegah semakin luasnya penyebaran virus MEV-1 ini. Salah satunya tokoh yang berperan penting adalah Dr. Mears yang pada akhirnya terjangkit virus cinta ini setelah berusaha menelusuri laju penyebaran wabah berbahaya ini. Dewi Fortuna nampaknya belum berpihak pada Dr. Mears yang pada akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan misi mulianya, memperjuangkan kemanusiaan. Yang membuat sedih lagi, karena di tengah kondisi wabah yang melanda semua korban dikuburkan secara masal dan tidak diperbolehkan untuk dikuburkan oleh pihak keluarga demi mencegah terjadi penularan. Dan disini Dr. Mears juga dikuburkan secara massal wlalaupun telah begitu melakukan begitu banyak hal untuk kepentingan banyak orang.

Adegan itu menjadi sebuah tamparan tentunya bagi kita semua, mengingat kondisi serupa juga terjadi di sekitar kita saat ini. Banyak tenaga medis yang berjatuhan pasca menyebarnya virus COVID-19. Di Indonesia, tercatat sudah ada 28 tenaga kesehatan yang gugur di medan perang, 17 dokter spesialis, 5 orang dokter gigi dan 6 perawat. Dengan begitu besar pengorbanan yang para tenaga medis berikan untuk kesembuhan para korban, masih saja banyak orang yang abai nan egois dengan kondisi yang ada. Salah satu contohnya adalah kisah mengenai sebuah keluarga di Sulawesi Tenggara yang ngotot membawa pulang jenazah keluarganya yang poisitf COVID-19 untuk dimandikan dan dikuburkan. Ini tentu merupakan sebuah tindakan egois karena setelah melakukan hal itu mereka dapat menjadi penyebar virus bagi orang lain dan mendorong angka pasien yang positif.

Kembali kepada cerita film ini, nampak ditunjukan betapa beratnya tugas para tenaga ahli untuk bisa segera menemukan vaksin virus MEV-1. Mereka bekerja siang dan malam dengan tekanan yang berat karena kondisi dunia yang kacau, korban yang berjatuhan sudah begitu banyak, serta dengan ketakutan keluarga mereka pun juga berisiko atau mungkin sudah menjadi salah satu korban keganasan virus ini. Diceritakan juga salah satu peneliti pada akhirnya harus mencoba vaksin yang dibuatnya pada dirinya sendiri karena sudah tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menunggu prosedur percobaan pada manusia. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan dan kekacauan yang tercipta karena virus MEV-1 ini. Mereka pun harus mengambil tindakan cepat dengan risiko nyawa sendiri, demi menghentikan bencana yang menimpa eksistensi manusia.

Pengorbanan tim peneliti itu tidak sia-sia, mereka berhasil menemukan vaksin yang tepat dan terbukti ampuh untuk mengatasi virus MEV-1 tersebut. Kebahagiaan melanda semua orang, vaksin pun mulai disalurkan dan digilir setiap harinya untuk diberikan kepada masyarakat luas berdasarkan hari ulang tahunnya. Meskipun berakhir bahagia, tentunya telah banyak pengorbanan yang dilakukan banyak pihak  untuk bisa membangun jembatan kokoh yang membebaskan manusia dari wabah mematikan tersebut. Pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga, pengorbanan materi, pengorbanan perasaan hingga nyawa juga dikorbankan demi terwujudnya cita-cita bersama untuk bisa lolos dari kehancuran umat manusia.

Film ini menjadi referensi yang tepat bagi kita semua, di tengah menghadapi kondisi yang hampir serupa. Kunci utamanya adalah jangan panik, jangan egois, bersabar, dan pantang menyerah karena sehabis hujan pasti akan ada pelangi yang akan datang menghiburmu. Kita juga harus menyatukan satu visi dalam berperang menghadapi lawan yang tak kasat mata ini. Singkirkan dulu segala ego dan kepentingan pribadi. Saat ini kita sedang uji untuk bisa bersatu, bahu-membahu menghadapi penyakit ini sebagai sebuah kesatuan, atas dasar kemanusiaan.

Kamu juga bisa menjadi pahlawan tanpa harus berdiri di garda terdepan, cukup dengan mengikuti semua arahan dari pihak terkait. Jika disuruh physical distancing dan #dirumahaja ya jangan malah bandel keluyuran nongkrong gak jelas. Kalau gak penting-penting amat ya gausah kemana-mana, di rumah aja. Kalaupun harus keluar rumah, ya usahain pakai masker biar lebih aman. Biasanya pada ngedumel capek kerja/kuliah, pengennya rebahan aja. Lah ini dikasih waktu banyak buat rebahan malah pengen keluar. Aneh bin ajaib deh emang ciptaan Tuhan yang satu ini.   

Protes sama pemerintah boleh saja jika dirasa ada kebijakan yang kurang sesuai, toh kita memang negara demokrasi kan. Tapi mohon proteslah sewajarnya dan dengan masukan yang membangun bukan hanya menghujat, menyebarkan kebencian, atau bahkan menyebar fitnah. Walaupun terkesan lalai dan lambat dalam penanganan, setidaknya kita tetap harus mendukung pemerintah dan segala jajarannya, karena  tentunya pemerintah juga menginginkan yang terbaik untuk masyarakatnya. 

Jika mengutip dari lagu Chrisye, Badai pasti Berlalu, begitu juga virus Corona yang pasti akan berlalu. Cuma lama sebentarnya virus itu  tergantung kita semua. Kalau kita disiplin menerapkan semua anjuran yang diberikan pihak terkait pastinya tingkat penyebaran virus ini dapat diperlambat sebelum akhirnya benar-benar berhenti.  Inget ya, mungkin kamu bisa kebal sama virus ini, tapi orang disekitar kamu, terutama yang sudah lansia belum tentu. Makanya kamu juga harus tetap hati-hati agar tidak tertular dan menulari orang lain. Maka dari itu yuk kita belajar dari film The Contagion, #dirumahaja, jaga jarak, jaga kebersihan badan terutama tangan, makan-makanan bergizi dan minum vitamin, rajin berjemur, tetap produktif serta jangan lupa bahagia ya peeps 🙂 hehehe~.

Oleh: Timothy Putra Noya

Editor: Indah Evania Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published.